Halo, teman-teman! Apa kabar hari ini? Semoga semangatnya masih full ya.
Jujur deh, waktu sekolah dulu, siapa di sini yang kalau dengar kata “Fisika” bawaannya langsung pengen izin ke UKS? Atau mungkin mendadak ngantuk berat liat papan tulis penuh rumus cacing keriting? Tenang, kamu nggak sendirian kok. Banyak banget dari kita yang punya trauma masa lalu sama pelajaran yang satu ini. Padahal ya, kalau kita mau ngelepasin sebentar rumus-rumus njelimet itu, dunia fisika itu asik banget lho.
Sebenarnya, ada banyak banget fenomena Fisika di Sekitar Kita: Konsep Sederhana yang Sering Disalahpahami karena kita terlanjur pusing duluan sama angkanya. Padahal, tanpa kita sadari, kita hidup berdampingan sama konsep-konsep ini setiap detik. Mulai dari kamu bangun tidur, jalan ke dapur, sampai rebahan lagi sambil scroll HP, semuanya ada fisikanya.
Nah, di artikel kali ini, aku nggak bakal ngajak kamu ngitung kecepatan roket atau nyari nilai X yang hilang entah ke mana. Kita bakal ngobrol santai aja, kayak lagi nongkrong di warkop, buat meluruskan beberapa hal yang sering banget kita salah artikan. Siap? Yuk, kita bedah pelan-pelan.
Kenapa Sih Benda Berhenti Bergerak Kalau Nggak Didorong?
Coba bayangkan kamu lagi mainan mobil-mobilan di lantai, atau geser gelas kopi di meja. Kalau kamu dorong itu gelas, dia gerak. Begitu kamu berhenti dorong, gelasnya berhenti.
Secara naluri, kita pasti mikir: “Oh, berarti supaya benda terus bergerak, harus terus-terusan dikasih gaya (dorongan).”
Masuk akal banget, kan? Selama ribuan tahun, orang-orang—termasuk filsuf pintar kayak Aristoteles—percaya kalau ini benar. Tapi, tebak apa? Ternyata konsep ini kurang tepat.
Ini adalah salah satu contoh Fisika di Sekitar Kita: Konsep Sederhana yang Sering Disalahpahami yang paling klasik. Sebenarnya, benda itu punya sifat “malas”. Dalam bahasa fisika yang agak keren, namanya Inersia. Kalau dia lagi diam, dia malas gerak. Tapi kalau dia sudah gerak, dia malas berhenti!
“Lho, tapi kok gelas kopiku berhenti kalau nggak didorong?”
Nah, itu dia biang keroknya: Gaya Gesek.
Sebenarnya gelas itu pengen terus meluncur sampai ujung dunia. Tapi, permukaan meja yang kasar “menahan” pantat gelas itu. Ada gaya gesek yang melawan gerakan gelas. Jadi, kamu harus terus dorong bukan buat bikin dia gerak, tapi buat melawan gaya gesek itu.
Coba deh bayangkan kamu lempar koin hoki di atas meja udara (air hockey) yang licin banget itu. Sekali sentil, koinnya ngacir nggak berhenti-berhenti sampai nabrak dinding, kan? Itu bukti kalau nggak ada gesekan, benda bakal jalan terus tanpa perlu didorong-dorong lagi.
Jadi, gaya itu fungsinya buat mengubah keadaan gerak (bikin ngebut, ngerem, atau belok), bukan sekadar buat mempertahankan gerakan.
Berat Badan Sama Massa Tubuh, Bedanya Apa Ya?
Ini nih yang paling sering bikin salah kaprah, bahkan di percakapan sehari-hari.
Sering kan kita nanya ke teman, “Eh, berat badan lo berapa sekarang?” Terus dijawab, “Ah, naik nih jadi 65 kilo.”
Dalam obrolan santai sih nggak masalah, kita semua ngerti maksudnya. Tapi kalau dilihat dari kacamata sains, ini miskonsepsi besar. Kita sering nyamain antara Massa dan Berat. Padahal mereka itu kayak kakak-adik yang kepribadiannya beda jauh.
Biar gampang, coba kita bedah pakai logika sederhana:
-
Massa itu adalah seberapa banyak “materi” atau “daging” yang ada di badan kamu. Satuannya Kilogram (kg).
-
Berat itu adalah seberapa kuat gravitasi menarik badan kamu ke bawah. Satuannya harusnya Newton (N), bukan Kg.
Bayangkan kamu adalah astronaut yang pergi ke Bulan. Di Bulan, gravitasi itu lemah banget, cuma seperenamnya Bumi.
Kalau kamu nimbang badan di Bulan:
-
Apakah tangan, kaki, dan perut kamu jadi hilang atau menyusut? Nggak dong. Badan kamu tetap segitu-gitu aja. Artinya Massa kamu tetap (misal 60 kg).
-
Tapi, apakah timbangannya bakal nunjukin angka yang sama? Nggak! Timbangannya bakal nunjukin angka yang jauh lebih kecil karena tarikan Bulan nggak sekuat Bumi. Artinya Berat kamu berkurang drastis.
Jadi, kalau kamu mau diet instan tanpa olahraga, pergilah ke Bulan. Beratmu turun drastis, tapi sayangnya kamu masih bakal terlihat sama gembulnya karena massanya nggak berubah. Hehe, becanda ya.
Biar lebih jelas dan enak dilihat, coba cek tabel di bawah ini. Ini ringkasan biar kamu nggak ketukar lagi.
| Karakteristik | Massa (Mass) | Berat (Weight) |
| Definisi | Jumlah materi dalam suatu benda | Gaya tarik gravitasi pada benda |
| Sifat | Tetap di mana saja (Bumi, Bulan, Angkasa) | Berubah tergantung lokasi (gravitasi) |
| Satuan Fisika | Kilogram (kg) | Newton (N) |
| Alat Ukur | Neraca | Timbangan Pegas |
| Konsep | Benda itu “seberapa susah didorong” | Benda itu “seberapa berat diangkat” |
Gimana? Sudah mulai kebayang kan bedanya? Jadi nanti kalau ke dokter, boleh lah iseng bilang “Dok, massa saya 60 kg, tapi berat saya sekitar 588 Newton.” Siap-siap aja dokternya bingung.
Kalau Kita Pukul Tembok, Kenapa Tangan Kita yang Sakit?
Pernah nggak lagi kesal, terus pukul meja atau tembok? (Jangan ditiru ya, sakit). Pas kita pukul tembok sekuat tenaga, tangan kita malah jadi merah dan nyut-nyutan.
“Padahal kan aku yang mukul, kok aku yang sakit?”
Di sini kita ketemu sama Hukum Newton ke-3, atau sering disebut Aksi-Reaksi. Konsepnya simpel: Gaya itu selalu berpasangan. Nggak ada gaya yang jomblo di alam semesta ini.
Kalau kamu kasih gaya (pukulan) ke tembok sebesar 50 Newton, tembok itu nggak diam aja menerima nasib. Tembok itu bakal “memukul balik” tangan kamu dengan kekuatan yang SAMA PERSIS, yaitu 50 Newton, tapi arahnya berlawanan.
Jadi sebenarnya, saat kamu memukul tembok, tembok juga sedang memukul kamu. Makanya sakit.
Ini juga alasan kenapa kita bisa jalan kaki. Coba perhatikan kaki kamu pas lagi jalan. Kaki kamu sebenernya mendorong tanah ke belakang. Nah, karena tanahnya baik hati dan taat hukum fisika, tanah itu mendorong kaki kamu ke depan.
-
Kita dorong tanah ke belakang (Aksi).
-
Tanah dorong kita ke depan (Reaksi).
Kalau misal kita jalan di atas es yang licin banget, kita susah jalan. Kenapa? Karena kaki kita nggak bisa mencengkeram buat dorong es ke belakang, jadi esnya juga nggak bisa dorong kita ke depan. Akibatnya? Ya kita jalan di tempat atau malah jatuh gedebuk.
Memahami hal ini bikin kita sadar kalau Fisika di Sekitar Kita: Konsep Sederhana yang Sering Disalahpahami itu sebenarnya kunci dari semua aktivitas kita. Tanpa gaya reaksi dari lantai, kita cuma bakal merayap nggak jelas.
Bener Nggak Sih Benda Berat Jatuhnya Lebih Cepat?
Oke, sekarang kita masuk ke pertanyaan sejuta umat. Kalau aku pegang bola bowling di tangan kanan, dan selembar bulu ayam di tangan kiri, terus aku jatuhkan barengan dari ketinggian yang sama. Mana yang sampai lantai duluan?
Pasti mayoritas jawab: “Ya bola bowling lah! Kan dia berat.”
Di kehidupan nyata, jawaban itu benar. Bola bowling bakal bum! duluan, sementara bulu ayam bakal melayang-layang santai kayak lagi nari ballet baru sampai lantai.
Tapi, apakah itu karena gravitasi lebih suka menarik benda berat?
Ternyata nggak! Gravitasi itu adil seadil-adilnya. Dia menarik semua benda dengan percepatan yang sama, nggak peduli benda itu segede gajah atau sekecil kelereng.
Lalu kenapa bulu ayam tadi lambat? Lagi-lagi, pelakunya adalah Udara.
Bulu ayam bentuknya lebar dan ringan. Saat dia jatuh, dia harus menabrak banyak partikel udara. Udara ini “menahan” si bulu biar nggak jatuh cepat-cepat (hambatan udara). Sementara bola bowling karena padat dan berat, dia gampang aja menerobos udara itu.
Coba deh lakukan eksperimen kecil di rumah (ini aman kok):
-
Ambil dua lembar kertas HVS yang sama persis.
-
Satu lembar biarkan utuh.
-
Satu lembar lagi, remas-remas sampai jadi bola kertas yang padat.
-
Jatuhkan barengan.
Meskipun massanya sama (kan kertasnya sama), yang diremas bakal jatuh jauh lebih cepat daripada yang lembaran. Kenapa? Karena yang lembaran ketahan sama udara.
Kalau seandainya kita hilangkan udara di ruangan (ruang hampa), bola bowling dan bulu ayam bakal jatuh barengan persis. Serius. NASA pernah nyoba ini di ruang vakum raksasa, dan hasilnya bikin merinding saking sinkronnya. Itu bukti kalau gravitasi nggak pilih kasih.
Tanya Jawab Seru (FAQ) Buat Kamu yang Masih Penasaran
Kadang, makin dijelasin malah makin muncul pertanyaan baru kan? Nah, aku udah kumpulin beberapa pertanyaan yang sering banget ditanyain sama teman-teman yang baru mulai “melek” fisika. Siapa tahu pertanyaan kamu ada di sini.
Q: Kalau di luar angkasa kan “Zero Gravity”, berarti nggak ada gravitasi dong?
A: Nah, ini juga sering salah kaprah. Di stasiun luar angkasa (ISS) itu sebenarnya masih ada gravitasi bumi, lho. Kuat banget malahan (sekitar 90% dari yang kita rasakan di tanah). Terus kenapa astronaut melayang? Karena mereka itu sebenarnya lagi “jatuh bebas” terus-menerus mengelilingi bumi. Karena pesawatnya jatuh, orangnya ikut jatuh, jadi kelihatan melayang. Kayak pas kamu naik lift yang talinya putus (amit-amit), kamu bakal merasa melayang sebentar di dalam lift.
Q: Kenapa kapal laut dari besi bisa ngapung, padahal paku kecil tenggelam?
A: Ini soal Massa Jenis dan bentuk. Besi kapal itu nggak padat full besi, tapi dibentuk sedemikian rupa jadi ada banyak rongga udara di dalamnya. Karena banyak udara, secara keseluruhan “rata-rata” kapal itu jadi lebih ringan daripada air. Kalau paku kan besi padat, jadi dia kalah sama air dan tenggelam deh.
Q: Energi itu bisa habis nggak sih?
A: Nggak bisa! Energi itu abadi, cuma bisa berubah bentuk. Listrik di rumah kamu nggak hilang pas lampu dimatikan, tapi berubah jadi cahaya dan panas. Bensin di motor nggak lenyap, tapi berubah jadi energi gerak, panas mesin, dan suara knalpot. Jadi kalau kamu merasa kehabisan energi, sebenernya energimu cuma pindah aja, mungkin jadi energi buat scroll medsos berjam-jam. Hehe.
Gimana? Ternyata fisika nggak seseram yang ada di buku paket sekolah, kan?
Sebenarnya, mempelajari Fisika di Sekitar Kita: Konsep Sederhana yang Sering Disalahpahami itu bukan biar kita jadi ilmuwan jenius, tapi biar kita lebih peka sama dunia tempat kita tinggal. Rasanya tuh jadi ada “klik” di kepala saat kita ngerti kenapa motor bisa ngerem, atau kenapa kita nggak melayang ke langit.
Semoga obrolan santai kita kali ini bisa sedikit membuka mata kamu kalau sains itu sebenarnya seru dan dekat banget sama keseharian kita. Nggak perlu rumus njelimet buat mulai mengagumi cara kerja alam semesta.
Terima kasih banget lho sudah meluangkan waktu buat baca sampai habis. Kalau kamu ngerasa artikel ini bermanfaat, atau jadi punya pertanyaan iseng lainnya soal fenomena aneh di sekitarmu, jangan ragu buat mampir lagi ke sini ya. Kita bahas bareng-bareng lagi nanti dengan segelas kopi virtual.